Sisi Positif pandemi Covid19 : Ngupil

Sisi Positif pandemi Covid19 : Ngupil

  •  1 tahun yang lalu

Teman2 pernah Ngupil ? Apa yang teman-teman rasakan ketika ngupil dan mendapatkan hasil (maaf ya) upil yang besar ? Lega dan puas ya.  Mungkin ini perasaan serupa yang dirasakan oleh seorang yang sedang memancing dan mendapatkan ikan dari kedalaman air yang tidak bisa  ditembus mata.

Saat ini sensasi ngupil  seperti yang dipaparkan diatas tinggallah kenangan.  Pada kondisi dimana Virus Corona sedang merebak dengan penyebaran mengikuti deret ukur, maka yang terjadi pada saat salah satu jari tangan kita menyentuh hidung untuk ngupil adalah rasa khawatir.  Khawatir kalau sebelumnya jari tangan kita ini menyentuh benda2 yang sudah terpapar virus Corona dan kita jadi tertular.  Untuk dapat melakukan ngupil dengan nyaman, maka  pada saat kita akan ngupil,  bersihkan tangan dulu sebersih-bersihnya, entah dengan cuci tangan menggunakan sabun (ada 8 langkah sesuai dengan petunjuk) atau mengunakan hand sanitizer.  

Tindakan penuh kehati-hatian ini bukan hanya pada saat ngupil saja, tapi juga pada saat ngucek mata, menghilangkan slilit, dan berbagai kegiatan sederhana pribadi lainnya.  Repot banget ya, gara-gara virus Corona ini, kita harus extra hati-hati, harus extra waspada, harus sadar betul terhadap setiap tindakan dan gerakan yang kita lakukan.

Teman-teman, mari kita perhatikan kalimat terakhir dari paragraph diatas “....  harus sadar betul terhadap setiap tindakan dan gerakan yang kita lakukan”, bukankah kalimat ini merupakan penjelasan dari sebuah terminologi yang saat ini sedang trending “MINDFULNESS” !!

Sederhananya Mindfulness dapat diartikan sebagai suatu kondisi dimana tubuh, pikiran, perasaan berada pada saat ini, tidak mengembara ke masa lalu atau masa depan,  atau bahkan tidak dalam keadaan kosong . “HERE AND NOW, RIGHTNOW”.  

Apa sih  yang akan kita peroleh kalau pikiran dan perasaan mengembara kemasa lalu? kecewa, sedih, gusar, bangga berkepanjangan dan berbagai emosi negatif lainnya terhadap sesuatu yang sudah basi.  Apa yang akan kita peroleh kalau pikiran dan perasaan mengembara ke masa depan? takut, khawatir, risau,  semangat berlebihan dan berbagai emosi negatif lainnya  terhadap sesuatu yang belum tentu terjadi.  Akankah rasa kecewa, sedih dll tersebut dapat merubah masa lalu ? NO !!.  Akankah sesuatu yang kita takutkan, khawatirkan itu pasti akan terjadi ? NO!!.  Lalu apa gunanya? Masa lalu adalah kenangan, masa depan adalah impian dan hidup nyata itu adalah NOW, saat ini, detik ini.  Dengan berada pada kondisi Mindful, seseorang akan realistis, apa adanya, melihat berbagai permasalahan dengan jernih, sehingga keputusan yang dibuatpun akan lebih tepat, akurat.  

Saat ini banyak perusahaan yang memberi fasilitas bagi para karyawan nya untuk belajar Mindfulness.  Sebab karyawan yang mindful dapat meletakkan masalah pertengkaran dengan pasangaan hidupnya semalam sebagai masa lalu dan harapan nya untuk mendapatkan promosi sebagai cita-cita.  Yang harus segera ditanganinya adalah masalah pekerjaan yang ada dimejanya saat ini sesuai dengan prioritas yang telah dibuatnya.  Wah, produktifitas kerjanya bakal naik deh.

Ada banyak cara untuk belajar mindfulness, untuk belajar hidup disini, saat ini, Here n now, Rightnow.  Ada 1 buku yang bisa saya referensikan untuk belajar mindfulness, judulnya “Bisa Merasa, bukan Merasa Bisa” karangan ki Aji.  Melalui bukunya, ki Aji menawarkan berbagai kegiatan yang dapat kita lakukan untuk berlatih Mindfulness.  Atau kita juga bisa belajar meditasi vipassana, dimana kita diajak untuk mengendalikan “our Monkey Mind” pikiran yang melompat-lompat berkeliaran ke masa lalu, masa depan, kemana-mana dengan memperhatikan tubuh.  Diawali dengan memperhatikan sentuhan udara dingin pada ujung hidung saat menghirup nafas dan sentuhan udara hangat di ujung hidung saat duduk diam bermeditasi melepas nafas.   Atau berlatih Tai Chi, dimana tangan digerakkan dengan nafas dan pikiran sadar bukan dengan tenaga otot.

Namun apapun metode latihan Mindfulness nya, tetap perlu latihan dengan disiplin sampai kita bisa pada tahap mindful.  Apa tolok ukur sudah pada tahap Mindful?  Salah satunya adalah  saat kita sadar dalam melakukan apapun.  Saat berjalan kaki, sadar yang diayunkan ke depan adalah  kaki kiri.  Sadar bahwa kita sedang membuka pintu dengan tangan kanan, sadar kalau kita kita mau ngupil pakai jari kelingking kanan.

Eh kok larinya ke ngupil lagi sih?   Teman2 mari kita Mindful, sadari bahwa saat ini prahara Corona sedang melanda dunia, Indonesia , melanda lingkungan terdekat kita.  Accept it, mari kita terima realita ini dan sadari, bahwa pembawa (carrier) Virus Corona itu ada di sekitar kita dan bisa jadi kita lah si pembawa nya.  Sadari saat tangan kita menyentuh suatu barang , sadari bahwa kita belum cuci tangan dan tidak boleh ngupil maupun pegang wajah.  Sadari bahwa inilah saat yang paling tepat untuk mengimplementasikan iman kita apapun agamanya, bahwa kita patuh dan takut pada sang pencipta dengan menjaga agar diri kita, keluarga kita dan orang lain sesedikit mungkin berpotensi  tertular virus Corona ini.  Sadari bahwa kita dapat ikut serta menahan melonjaknya beban kerja para saudara kita yang bekerja di Rumah sakit , dokter, perawat dll.

Sadari bahwa inilah saat yang paling baik untuk belajar Mindfulness, karena kita dibantu oleh keadaan yang memaksa kita untuk mindful, memaksa kita berhati-hati dan sadar bahkan pada saat kita Ngupil.  Let’s be Mindful !! (Coach Hardy / SLC)